Tampilkan postingan dengan label Catatan Pinggir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Pinggir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Oktober 2013

BUDAYA, PARTISIPASI & PENDIDIKAN POLITIK (Sistem Pemilihan berbasis IT)

BUDAYA, PARTISIPASI & PENDIDIKAN POLITIK (Sistem Pemilihan berbasis IT)

6 September 2013 pukul 10:26
“Pemilihan Umum telah memanggil kita, seluruh rakyat menyambut gembira. Hak demokrasi Pancasila, hikmah Indonesia Merdeka. Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya,jujur, adil membangun sentosa, di bawah UUD ’45, kita menuju ke Pemilihan Umum.”

Iringan lagu berikut yang seringkita dengar ketika Pesta Demokrasi akan digelar pada dekade 70 hingga 80an. Tulisan Pemilu; dari masa ke masa telah dilansir beberapa media cetak, lengkap dengan periodesasi dan sistem pemilihannya. Baik itu dimulai dari masa Orde Lama, Baru, Reformasi hingga masuk dalam sistem parlemen Indonesia Bersatu.

Ketika digelar,lembaga terkait ikut berpartisipasi memberikan andil besar dalam menentukan sikap, sesuai amanah tertuang dalam konsitusi terkait, “setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk dipilih dan memilih”. KPU sebagai Komisi Pemilihan Umum, Panwaslu sebagai Panitia Pengawas Pemilu, KIP sebagai Komite Independens iPemilu serta tidak ketinggalan maraknya perhitungan dengan cara cepat dalam menciptkana budaya, partisipasi dan pendidikan Politik, menentukan siapa bakal calon pilihan sebagai wakil dalam memimpin dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Deretan Bakal Calon digodok habis-habisan dalam Partai Politik sebagai line peserta Pemilu. Bahkan, bakal calon perseorangan bermunculan yang kita kenal sebagai anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah), diwakilkan masing-masing 4 orang untuk 1 daerah dari 33 provinsi ditambah dengan PAW (Pengganti Antar Waktu) 2 orang.

Apa subtantif daritulisan ini ? Pastinya sesuai dengan Judul diperkuat dengan Lead dalam alunan sebuah lagu. Kasuistik Pemilukada (Pemilihan Umum Kepala Daerah) baik itu ditingkat provinsi maupun kabupaten/kota begitu marak di screen TV. Partisipasi politik masyarakat dengan budaya yang telah tercipta ikut berpartisipasi dengan semangat beragam. Perhitungan cepatpun dinanti sebagai bahan pendidikan politik. Quick Cowndengan cara sms kumudian dituangkan dalam beragam diagram ven maupun blok yang awalnya dikenalkan Rizal Mallarangen kemudian diteruskan Denny JA. Lingkaran Survey dibentuk pula Burhanuddin yang mulanya sebagai mentor politik diberbagai perpektif politik dalam muatan pendidikan. Apa yang terjadi dalam setiap peristiwa Pemilu ? Mosi tidak percaya akan selalu ada, jika tidak akan diadakan lagi berbagai putaran tanpa memikirkan tahapan dengan sistem manual di bilik suara. Heroik alunan lagu sebagai spirit dalam menyikapi partisipasi budaya dan pendidikan politik tetap dijaga keabsahannya. Kini, ada pointers pemikiran yang mungkin bisa disebut sebagai Revolusi Pemikiran menyikapi kasus demi kasus. Kita tidak lagi mendengar adanya jual suara, penjaga gawang, Bakal Calon sebagai ATM dan banyak lagi issue-isue dilontarkan dengan sistem ini. Bukankan kita telah masuk di era baru ? 2014 bisa dihitung dengan jari dan jika internet bisa masuk kampung kenapa tidak; sistem Pemilu mulai melirik pendekatan media yang banyak digunakan oleh masyarakat dengan perangkat teknologi BBM dengan nomor PIN sebagai password data pendukung KartuTanda Pemilih. Kita membutuhkan 5 hari dengan 5 tahapan, jika anggota peserta pemilu itu banyak. Tahap pertama tentunya kita tidak meninggalkan sistem yang telah diatur dalam konstitusi yang sampai pada tingkat Mahkama Konstitusi (MK). Hari ke 2 kita mulai dengan memanjakan pemilih sebagai masyarakat yang dengan bangga dan berbesar hati mendukung Bakal Calonnya duduk di parlemen atau bahkan menjadi orang nomor satu di Negara ini (Presiden dan Wakil Presiden).

Pemanjaan ini dilihat dalam kerangka memanfaatkan media yang ditahun 2009 telah dilakukan melalui polling Presiden AS, Barack Obama. Fasilitas BBM (BlackBerry Messenger).Tahapan ini, pemilih bisa langsung memanfaatkan fasilitas yang ada, dilengkapi dengan komentar semisal; sy memilih si A karena jujur, adil dan bijaksana. Nama dan nomor PIN pemilih terdaftar sebagai pemilih dengan memberikan partisipasi aktifnya. Dari sini bisa dilihat dalam domain mentor KPU. Panwas tinggal memilah criteria berdasarkan lokasi yang tersedia di google atau bing. Saya berfikir, kita mempunyai pandangan yang sama sebenarnya dalam melihat pemanfaatan media teknologi sebagai media tepat guna. Sang pemimpin yang telah dipilih nantinya bisa melihat dan memberikan apresiasi sendiri terhadap pemilihan dalam partisipasi aktifnya. Begitu pula sebaliknya. Hubungan timbal balik tetap terjaga sebagai bagian dari sistem Pemilihan Umum berbasis IT.

Sampai padatahap ke 5 yang bermunculan adalah komentar-komentar dengan suara mutlak, tanpa ada jual suara seperti yang disuarakan diwarung-warung kopi. Si A akan tetap menjadi si A dan si B akan pula tetap menjadi si B dengan perolehan suara yang dikemas dalam dua sistem. Kombinasi sistem ini bisa memberikan peluang, tukar informasi ketika kita bertatap muka dalam jarak dekat. Bakal Calon dengan hasil mutlak, lengkap dengan komentar kenapa dan bagaimana suara ia raih. Tentunya apresiasi dan jempolan dari sang Pemimpin, dipilih berdasar pada budaya, partisipasi dan pendidikan Politik itu. Singkirkan pikiran jika bicara;siapa-siapa yang akan membekali HP dengan merk BlackBerry ? Itu urusan nanti. Sponsor! bisa, kandidat! bisa, tim sukses! bisa dan banyak lagi. Saya berfikir anda dan kita mempunyai pandangan yang sama ketika melihat fungsi ke dua sistem ini diberlakukan…..! Sekian dulu untuk sementara, kita semua lebih paham dalam mencermati sistem kearah yang lebih baik. Insya Allah….;-)

Kamis, 04 April 2013

Alur Pedoman Jalan






Konsultasi dan koordinasi dalam laporan ini masuk dalam alur penjajakan ketika salah satu program tersisa di TW II dengan bidang dan struktur diruang lingkup Sie. Pengembangan Industri Film tidak ter-rec, banyak hal terjadi seketika sesampai di tujuan. Untuk itu, kegiatan tatap muka dalam hal koordinasi menjawab sisa program yakni “Workshop dan Disksi Film” seperti yang tertuang dalam Dokumen Pelaksanaan Program Satuan Kerja khusus di Sie. Pengambangan Industri Film dengan subtatif title yang sama. Fokus sasaran dalam workshop mencakup dalam uraian seperti yang telah terbidik dalam cetakkan laporan pada tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal memang untuk menjadikan bidang Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya dalam diagframa dan ranah produksi film.

Pemanfaatan media informasi dan komunikasi pada masa kekinian, dapat memberikan muatan informasi melalui penyebarannya dan kemudian terdokumentasi dalam berbagai domain (Web, blok, youtube dan jejering social). Berbayar atau tidak, anda yang ngerti. Akses teknoligi informasi dalam berbagai aspek, dibutuhkan ! Untuk itu peserta didik dalam iso/speed menguploud kreatifitas produksi, harus diberikan ruang, hingga tercipta berbagai karya yang tetap dinamakan “Film”.

Sketsa dalam stand by dan rec, durasi, dilengkapi music/voice yang melatar belakangi dalam tratmant, dituangkan ke stroryboard dan tingkat imaginasi dalam produksi film. Skenario bisa saja terjadi seketika, alur pikir dimainkan dari visi, akan menceritakan apa, siapa, dimana, kapan produksi itu ada. Proses kreatif dibutuhkan dalam muatan informasi, guna memberikan pengetahuan dalam tumpukan kertas-kertas yang kemudian bisa dijadikan lembaran baru.

Adapun thema yang dijadikan alur dalam workshop dan diskusi film ini, diarahkan pada “Realitas Sosial sebagai Bahan Ajar”.

Pembicara: 
Ray Sahetapy (Sutradara/actor/putra daerah)  Ichsan Masyhuda (Kepala Sie. Pengembangan Industri Film/Praktisi Teknologi Informasi/Penulis/Realisator Program Berbasis Seni Budaya)  Nama yang direncakan sebagai sumber dalam memberikan arahan dalam struktur dan mekanime tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Pelaksanaan direncanakan pada Minggu ke IV Mei 2013 di Universitas Tadulako Palu - Sulawesi Tengah.

Selasa, 01 Mei 2012

Kilasan Sejarah Pendidikan di Sulawesi Tengah

"Bangkitnya Generasi Emas Indonesia", tema yang diusung pada upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional Rabu, 2 Mei 2012 kali ini. Pikiran seketika mengingatkan pada sebuah tulisan tentang Sejaran Perkembangan Pendidikan di Sulawesi Tengah. Berikut kilasan diperiodisasi tertentu.Pada November 1950 dibentuk Kantor Inspeksi Sekolah Rakyat Daerah X Provinsi Sulawesi Tengah. Guna mendapatkan pelaksanaan yang teratur dan sebaik-baiknya di bidang pendidikan Sekolah Rakyat oleh Pemerintah, diadakan pembagian tugas, diantaranya; Badan Penyelenggaraan Sekolah Rakyat dibentuk dan berkedudukan di daerah-daerah kabupaten yang telah diserahi urusan penyelenggaraan Sekolah-Sekolah Rakyat, bertugas menyelenggarakan penerimaan murid, tata usaha keuangan dan kegiatan administratif  sertamenetapkan atau mengubah Rencana Pelajaran Sekolah Rakyat, menetapkan hari libur dan melakukan pengawasan terhadap urusan pendidikan dan pengajaran.

Untuk daerah Sulawesi Tengah Kantor Kepala Inspeksi Sekolah Rakyat Kabupaten, terdapat di kabupaten Poso, kabupaten Donggala dan kota Palu. Adanya Kantor ini, maka rencana dan program pengembangan pendidikan dasar di daerah makin mantap pelaksanaannya. Hingga saat tulisan ini dimuat Radar Sulteng, Hal. 9 (Rabu/5/2012) bertajuk Bupati dan Walikota Diminta Siap Terapkan Wajib Belajar 12 Tahun.


Kamis, 23 Februari 2012

Jalan Sesuai KTP

Google Map seperti yang anda lihat diatas, adalah sebuah template yang telah disempurnakan tapi belum juga sempurna. Letak Jalan Soeprapto tertulis dalam penamaan jalan, seharusnya Jln. Setia Budi. Posisi koordinat A letak awalnya tepat berada di Lrg. Merdeka Jln. Setia Budi yang tembus di Jln. Tombolotutu kelurahan Talise Palu Timur sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk yang masih diberlakukan. Terima kasih semua pihak atas keterlibatannya memposting foto, video jika ada dan juga tercatat dalam Wikipedia. Tidak ada kata ataupun cara yang didapatkan, jika kita tidak memulainya. Mungkin disinilah letak fungsi dari Sistem Informasi Geografi, yang masuk dalam kajian.

Sebelumnya Ketty telah memberikan jalur melalui sepeda, untuk masuk kawasan ini. Tinggal City for all saja yang menjabarkannya. Untuk itu diperlukan kerjasama semua pihak dalam membenahi dengan melihat kasat mata, apalagi pernah kita buat. Bukannya egosentris dengan akun ichsan.m2@gmail.com ! Tapi disitulah terpapang semua posting yang pernah ada. Tdk perlu dipersoalkan. Ambil hikmah dibalik perkembangan kota sebagai sebuah peradaban yang baru. Terima kasih :-)

Selasa, 07 Februari 2012

Media SePur; Edisi 1 tahun 2011

Media ini awalnya merujarpakan laporan kegiatan dilingkungan Sejarah dan Purbakala, sebuah Bidang dari dua Bidang yang ada di Kebudayaan. Karena terbitannya dalam rangka menyahutu Penyelenggaraan event Pekan Nasional Cinta Sejarasah 'II (PENTAS 'II), maka lebih dominan isi engan kepemimpdari media ini tentang kesejarahan. Mungkin saja pada terbitan kemudian, lebih bervariatif dengan pimpinan SKPD yang baru pula. Silahkan membaca.....!
Silahkan download majalahnya di sini: http://www.4shared.com/rar/mlkEcJjG/Sepur_Okk.html

Selasa, 29 November 2011

Lukisan Catatan di Media Cetak

Hujan deras mengguyur kota Palu saat catatan ini kembali disambut Nuansa Pos, media cetak lokal memuat dan sesungguhnya berharap melanjutkan catatan di media Pembangunan terbitan BAPPEDA Sulawesi Tengah. Maka, apa yang dijadikan lead-nya menganggap simpulan dari berbagai media. Cetak maupun elektronik. Berikut catatan yang dibuat tepat berada di warung kopi di pinggir kuala Jl. Setia Budi, 23/9/2011;

Saat ini saya berada tepat dipinggir kuala bermuara di teluk, tepat berada di warung kopi dekat jembatan kuning setia budi Palu. Lalu lintas, hiruk pikuk yang terkadang sunyi senyap, sepintas teriakan spontan dan yang lebih menariknya lagi pengendara motor dengan kecepatan sekitar 60 km sambil membakar sebatang rokoknya. Sambil tersenyum dan tertawa kecil tetap saja kutulis cacatan ini sebagai sebuah catatan, lazimnya sebuah catatan pinggir di salah satu majalah ternama. Kenapa catatan ini mengambil leadnya seperti yang sedang anda baca ini?
Pastinya, pembicaraan yang sempat tertunda dengan seorang kawan, bertugas dibidangnya. Biasanya dalam beberapa catatan, saya istilahkan sebagai tukar informasi jarak dekat. Beberapa hal yang perlu digaris bawahi adalah memformalkan hal-hal yang tdk formal menjadi lebih formal.

Dari sekian banyak informasi disajikan, tertuju pada pemaknaan dari draf RPJP Sulawesi Tengah, disertai visi dan misinya. Secara garis besar mengisyaratkan untuk melaksanakan keseimbangan dalam memajukan daerah di kawasan timur Indonesia yang mengarah pada sektor argobisnis dan kelautan.

Ketika kita memaknai dan sedikit melirik program prioritas pembangunan dalam arti lebih luas, ada 3 hal penting; 1) sektor agraris; 2) sektor industri dan yang ke 3) sektor informasi. Dihampir semua sektor terjabarkan dengan menjawab berbagai simpulan di RPJP. Namun demikian, terdapat sektor yang bermuara pada muatan lokal yang patut “dibijaksanai” yakni penguatan pada sektor kebudayaan dengan 7 unsurnya, jika kita masih melihatnya sebagai sebuah konsep. Kebudayaan acap kali dikaitkan dengan kesenian semata dan diurutkan pada bagian akhir unsur-unsur itu. Saya belum melihat nilai dari unsur seni budaya seperti kekuatan audio visual dalam hal ini film, kecuali disinetron yang direspons Briptu Norman seperti halnya mengadaptasi styling Syahrul Khan dengan mengambil kekuatan perkapata masyarakat India, melalui industri filmnya. Habis-habisan memang! Pernah ada beberapa indutri yang telah dikaryakan oleh para seniman kita terdahulu. Tinombala, judul film diambil dari kisah nyata peristiwa jatuhnya pesawat digunung Tinombala, Mutiara di Katulistiwa dan mungkin saja ada lagi yang lainnya. Kenapa tidak!

Tulisan ini sekedar mengingatkan kita, kekuatan informasi seperti halnya kutipan kalimat people to people contact diamanatkan dalam pidato kenegaraan. Sepertinya agak sedikit lari dari alur, namun demikian masih saja dan memang terakumulasi dalam berbagai subsektor, termasuk didalamnya draf rancangan seperti disebutkan diatas.
Implementasi kongkrit dari rencana itu, terlihat dari unsur teknologi. Itupun akan mengingatkan kita betapa kuatnya hak paten atas industri tradisional kita. Kasus lebih nyata pada reog ponorogo, belum lagi lainnya. Kita punya rahasia industri yang dalam sub tema kegiatan Pekan Nasional Cinta Sejarah ‘September 2011 dengan mengambil sub tema dalam Pameran Bersama Museum se Indonesia; Kain khas tradisional di 33 provinsi.

Data dihasilkan dari inventarisasi terencana melalui berbagai media, dan lazimnya dikenal dangan data dalam tumpukan kertas-kertas, membolakbalikkan halaman. Kita harus melirik penyajian data melalui audio visual, dan itu telah dilakukan. Pertanyaannya apakan maksimal atau tidak. Terpenting telah dimulai. Apresiasi memang tdk datang dari diri sendiri, ataupun sekelompok orang, penilaian atas sesuatu hal termasuk didalamnya penyajian data masih mencakup dalam ruang lingkup kajian secara statistik semata, dinilai oleh orang lain. baik disusun berbentuk kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan, dilengkapi diagram vena ataupun diagram blok. 

Pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi, tdk dapat disangkal lagi. Menjadikan ia semacam proses yang berkesinambungan, terus dan terus berkembang diikuti percepatan pembangunan sebagai wilayah pertemuan. Pembangunan yang mengarah pada proses demokratis, transparan dan responsif. Circle, terus menerus.
Ketika membaca terbitan di media Pembangunan terbitan Bappeda edisi 3, banyak hal yang perlu dicermati sebagai sesuatu sajian dalam bentuk media. Informasi terkuat saya kira terletak pada sajian, “Data Base kita masih Lemah” dikomentari salah seorang perwakilan perseorangan ditingkat pusat, Hj. Nurmawaty Bantilan, SE. Kilasan penyajian terjawab ketika kekuatan data dan informasi, sejalan - berbarengan. Tanpa data, kita tidak mampu mengkomunikasikan hingga menjadi sebuah informasi. Saya kira dalam tulisan yang disajikan dalam bentuk reportase itu, jauh sebelumnya telah dilakukan dengan lompatan kekuatan informasinya pada wilayahnya, mengarah pada sistem komunikasi jarak jauh. Govermant, salah satu kunci utama dalam mengakumulasi data-data pada tingkat satuan kerja perangkat daerah. Dimana data-data itu diperoleh? Tentunya pada komunitas-komunitas tertentu, dijadikan objek kajian yang ingin dilirik. Data dasar biasanya tertuju pada pointers melalui konsep kebudayaan dengan 7 unsurnya itu. Penguatan data dasar kebudayaan yang akan bermuara pada masuk tidaknya wisatawan lokal, nusantara maupun mancanegara. Diagframa panorama budaya mendukung dengan kawasan penunjang, dipelihara sebagai sesuatu daerah tujuan wisata. Untuk membicarakan ini, tentunya juga ada beberapa aspek praktis dengan pembagian zona inti. Ini tugas para akademisi sesuai dengan bidang dalam melihat dampak maju mundurnya sebuah perubahan dalam hal ini pembangunan.

Realitas pembangunan dibeberapa daerah telah menunjukkan dengan tidak meninggalkan berbagai aspek, sibut saja jalan trans Sumatra dirindangi perkebunan karet. Ditemukan tidak, adanya pabrik disana dengan menghasilkan produk brigestone-nya? Ada-lah, ini bukannya lompatan melainkan proses dengan sumber daya alam dan manusia tentunya. Berbagai elemen terlibat untuk itu. Bukankan salah satu tujuan MDGs mengarah hal yang sama?

Saya pikir pengelola media pembangunan yang lebih ngerti ketika bicara persoalan itu. Tulisan ini dibuat guna mengevaluasi data yang tertuang dengan pendekatan budaya dinamis.

Jumat, 25 November 2011

Gerwani; Kisah Tapol di Kamp Platungan

Buku ini ditulis Dwi Lestariningsih sekaligus salah seorang yang menduduki jabatan penting di Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI. Terbitnya merupakan hasil studi dijejajng pendidikan formalnya, diterbitkan Kompas. Berikut petikan tertuang di back cover terbitannya.

Menyusul melutusnya peristiwa G30S, para anggota Gerwani ditangkap aparat rezim Orde Baru. Mereka dikamp isolasi tahanan politik, khusus wanita di Platungan. Padahal, mereka sebetulnya hanya korban prasangka dan kecurigaan, sama sekali bukan anggota perempuan itu. Salah seorang salah tangkap itu adalah Sumilah, ikut ditahan dan menderita.

Kehidupan para tahanan politik wanita di Platungan sarat dengan tindakan kekerasan fisik maupun mental. Disana, selama hampir 10 tahun mereka dijaga oleh para tentara yang semuanya lakilaki. Pelecehan seksual dan pemerkosaan tak jarang meninmpah mereka. Beberapa diantaranya bahkan sampai hamil dan melahirkan di kamp tahanan di Kendal, Jawa Tengah tersebut.

Inilah kisah Sumilah dan para perempuan lainnya yang terlanjur di cap komunis, bahkan setelah dibebaskan 1979 masih saja didera hukuman sosial, disingkirkan dari kehidupan masyarakat normal.

Selasa, 22 November 2011

Perjalanan Jakarta Tempo Dulu


Ide, gagasan nyata adanya, acuan kerja yang terjabarkan, tertuang disana. Kerangka bahkan mastering bukunyapun, rampung ditulis Jamrin Abubakar berdasar pada kumpulan karya-karyanya dimedia cetak, terus dilakukan. Seri informasi ini penting adanya, meceritakan riwayat hidup, masing-masing; 1) Galib Lasahido, 2) Rusdy Toana, 3) Ladudin Bungkato, 4) Alimin Lasasi, 5) Ischak Moro, 6) J.K. Tumakaka, 7) Hamid Rana, 8) Masyhuddin Masyhuda dan ke-9) Zulfikar Abdullah.

Bagaimana dengan isi Seri Informasi 9 Tokoh ini ? Simak dan Insya Allah diterbitkan bertepatan dengan HUT Provinsi Sulawesi Tengah, 13 April 2012.

Rabu, 12 Oktober 2011

Evaluasi Data, Terevaluasi...?

Saat ini saya berada tepat dipinggir kuala bermuara di teluk, tepat berada di warung kopi dekat jembatan kuning setia budi Palu. Lalu lintas, hiruk pikuk yang terkadang sunyi senyap, sepintas teriakan spontan dan yang lebih menariknya lagi pengendara motor dengan kecepatan sekitar 60 km sambil membakar sebatang rokoknya. Sambil tersenyum dan tertawa kecil tetap saja kutulis cacatan ini sebagai sebuah catatan, lazimnya sebuah catatan pinggir di salah satu majalah ternama. Kenapa catatan ini mengambil leadnya seperti yang sedang anda baca ini?

Pastinya, pembicaraan yang sempat tertunda dengan seorang kawan, bertugas dibidangnya. Biasanya dalam beberapa catatan, saya istilahkan sebagai tukar informasi jarak dekat. Beberapa hal yang perlu digaris bawahi adalah memformalkan hal-hal yang tdk formal menjadi lebih formal.

Dari sekian banyak informasi disajikan, tertuju pada pemaknaan dari draf RPJP Sulawesi Tengah, disertai visi dan misinya. Secara garis besar mengisyaratkan untuk melaksanakan keseimbangan dalam memajukan daerah di kawasan timur Indonesia yang mengarah pada sektor argobisnis dan kelautan.

Ketika kita memaknai dan sedikit melirik program prioritas pembangunan dalam arti lebih luas, ada 3 hal penting; 1) sektor agraris; 2) sektor industri dan yang ke 3) sektor informasi. Dihampir semua sektor terjabarkan dengan menjawab berbagai simpulan di RPJP. Namun demikian, terdapat sektor yang bermuara pada muatan lokal yang patut “dibijaksanai” yakni penguatan pada sektor kebudayaan dengan 7 unsurnya, jika kita masih melihatnya sebagai sebuah konsep. Kebudayaan acap kali dikaitkan dengan kesenian semata dan diurutkan pada bagian akhir unsur-unsur itu. Saya belum melihat nilai dari unsur seni budaya seperti kekuatan audio visual dalam hal ini film, kecuali disinetron yang direspons Briptu Norman seperti halnya mengadaptasi styling Syahrul Khan dengan mengambil kekuatan perkapata masyarakat India, melalui industri filmnya. Habis-habisan memang! Pernah ada beberapa indutri yang telah dikaryakan oleh para seniman kita terdahulu. Tinombala, judul film diambil dari kisah nyata peristiwa jatuhnya pesawat digunung Tinombala, Mutiara di Katulistiwa dan mungkin saja ada lagi yang lainnya. Kenapa tidak!

Tulisan ini sekedar mengingatkan kita, kekuatan informasi seperti halnya kutipan kalimat people to people contact diamanatkan dalam pidato kenegaraan. Sepertinya agak sedikit lari dari alur, namun demikian masih saja dan memang terakumulasi dalam berbagai subsektor, termasuk didalamnya draf rancangan seperti disebutkan diatas.

Implementasi kongkrit dari rencana itu, terlihat dari unsur teknologi. Itupun akan mengingatkan kita betapa kuatnya hak paten atas industri tradisional kita. Kasus lebih nyata pada reog ponorogo, belum lagi lainnya. Kita punya rahasia industri yang dalam sub tema kegiatan Pekan Nasional Cinta Sejarah ‘September 2011 dengan mengambil sub tema dalam Pameran Bersama Museum se Indonesia; Kain khas tradisional di 33 provinsi.

Data dihasilkan dari inventarisasi terencana melalui berbagai media, dan lazimnya dikenal dangan data dalam tumpukan kertas-kertas, membolakbalikkan halaman. Kita harus melirik penyajian data melalui audio visual, dan itu telah dilakukan. Pertanyaannya apakan maksimal atau tidak. Terpenting telah dimulai. Apresiasi memang tdk datang dari diri sendiri, ataupun sekelompok orang, penilaian atas sesuatu hal termasuk didalamnya penyajian data masih mencakup dalam ruang lingkup kajian secara statistik semata, dinilai oleh orang lain. baik disusun berbentuk kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan, dilengkapi diagram vena ataupun diagram blok.

Pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi, tdk dapat disangkal lagi. Menjadikan ia semacam proses yang berkesinambungan, terus dan terus berkembang diikuti percepatan pembangunan sebagai wilayah pertemuan. Pembangunan yang mengarah pada proses demokratis, transparan dan responsif. Circle, terus menerus.

Ketika membaca terbitan di media Pembangunan terbitan Bappeda edisi 3, banyak hal yang perlu dicermati sebagai sesuatu sajian dalam bentuk media. Informasi terkuat saya kira terletak pada sajian, “Data Base kita masih Lemah” dikomentari salah seorang perwakilan perseorangan ditingkat pusat, Hj. Nurmawaty Bantilan, SE. Kilasan penyajian terjawab ketika kekuatan data dan informasi, sejalan - berbarengan. Tanpa data, kita tidak mampu mengkomunikasikan hingga menjadi sebuah informasi. Saya kira dalam tulisan yang disajikan dalam bentuk reportase itu, jauh sebelumnya telah dilakukan dengan lompatan kekuatan informasinya pada wilayahnya, mengarah pada sistem komunikasi jarak jauh. Govermant, salah satu kunci utama dalam mengakumulasi data-data pada tingkat satuan kerja perangkat daerah. Dimana data-data itu diperoleh? Tentunya pada komunitas-komunitas tertentu, dijadikan objek kajian yang ingin dilirik. Data dasar biasanya tertuju pada pointers melalui konsep kebudayaan dengan 7 unsurnya itu. Penguatan data dasar kebudayaan yang akan bermuara pada masuk tidaknya wisatawan lokal, nusantara maupun mancanegara. Diagframa panorama budaya mendukung dengan kawasan penunjang, dipelihara sebagai sesuatu daerah tujuan wisata. Sebut saja peninggalan megalitik di lembah bada kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (baca; Joko Siswanto, laporan penelitian arkeologi). Untuk membicarakan ini, tentunya juga ada beberapa aspek praktis dengan pembagian zona inti. Ini tugas para akademisi sesuai dengan bidang dalam melihat dampak maju mundurnya sebuah perubahan dalam hal ini pembangunan.

Realitas pembangunan dibeberapa daerah telah menunjukkan dengan tidak meninggalkan berbagai aspek, sibut saja jalan trans Sumatra dirindangi perkebunan karet. Ditemukan tidak, adanya pabrik disana dengan menghasilkan produk brigestone-nya? Ada-lah, ini bukannya lompatan melainkan proses dengan sumber daya alam dan manusia tentunya. Berbagai elemen terlibat untuk itu. Bukankan salah satu tujuan MDGs mengarah hal yang sama?

Saya pikir pengelola media pembangunan yang lebih ngerti ketika bicara persoalan itu. Tulisan ini dibuat guna mengevaluasi data yang tertuang dengan pendekatan budaya dinamis *)

BALIA di Etnik Kaili Sulawesi Tengah


Buku ini ditulis;

Drs. Pasaulolo Dg. Malindu, lahir di Palu-Sulawesi Tengah, 27 Januari 1947. Seni sastra ditekuninya sejak umur 16 tahun. Menamatkan studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Memperoleh gelar sarjana ditahun 1986.

Ichsan Masyhuda, S.Sos. lahir di Palu-Sulawesi Tengah, 9 Oktober 1970. Menamatkan studi pada Jurusan Sosiologi Fisip Universitas Tadulako.

Saat buku ini ditulis dan diterbitkan Dewan Kesenian Sulawesi Tengah (DKST) di tahun 1999, keduanya bertugas di Bidang Kesenian Kanwil Depdiknas Provinsi Sulawesi Tengah.

Senin, 04 April 2011

Rekreatif dalam Lintasan Sejarah Musik


Masih ingat tidak dengan penggalan syair yang dinyanyikan Fredy Tamaela, “Sari...Ratna Sari Dewi. Raut wajahmu bersinar bagai pelangi...” atau “...diantara kata-kata, diantara cita-cita dibatas...”, dijadikan lagu wajib dalam peristiwa Festival Band kota Palu di tahun 1986 ?

Tidak bisa dipungkiri, kiprah musik dalam perkembangannya di kota Palu, mulai mengakar pada dekade 80-an. Tepatnya di tahun 1986. Madness Enterprise sebagai penggagas event yang diberi tajuk Festival band dan diikiti kurang lebih 19 grup band. Baik pemula maupun yang sudah malang melintang dipanggung musik, dijadikan sebagai festival peristiwa. Mereka diberi kesempatan yang sama berkompetisi dalam satu stage. Kemudian hampir tidak bisa dihitung lagi, berapa perisiwa bermusik yang pernah digelar, baik di kota Palu maupun sedikit keluar wilayah kota Palu. Dalam satu tahun saja, pernah digelar lima kali perisitwa bermusik yang dikemas dalam bentuk festival. Beberapa festival yang mungkin dikatakan sukses, sebut saja; Festival Rock se Indonesia Timur (1987), Festival Jazz Pop (1987), Campus Open Air Music (1988), Fesival Band Kampus (1990), Nosarara Musik Rock Festival (1992) dan Djarum Super Musik Rock Nabanga (1993).

Kesuksesan peristiwa-peristiwa itu, baru sebatas partisipasi untuk menjadikan akses musik menjadi lebih semarak ketika itu. Ia belum mampu menjembatani sebuah grup band untuk berkiprah lebih jauh, semisal ikut serta dalam festival rock se Indonesia, punyanya Log Zhelebour.

Harapan tinggalah keinginan, lahirnya generasi musik yang baru diperhadapkan pada pertanyaan-pertanyaan klasik, seakan akses bermusik yang telah dibekali melalui ajang festival, tidak mampu memberikan “angin segar”. Akan dikemanakan mereka ? Apakah hanya sampai di festival-festival ? Pertanyaan itu sering kali terlontar, ketika festival band kembali marak digelar. Dalam kondisi demikian, maka yang diharapkan dari mereka adalah mutu dan gaung musik Palu, bisa menggema dipelataran Nusantara. Bukan saja secara individual, seperti Otte Abadi, Umar Alamri (Umar Palu), Abdee Negara, Hengki Supit, Pasha dan Oncy Ungu, Reza, Rival serta Nizar (Zaro). Akan tetapi lebih dari itu, yakni sebuah grup band. Entahlah, proses bermusik terus mengalir dalam lintasan sejarah mengikuti perkembangannya sendiri. Entah kini, esok dan nanti !chan

Kamis, 02 September 2010

Kulrindang, Alat Musik Pukul di Etnik Buol Sulawesi Tengah


Pengarah
Liberty Pasaribu, SH. MSi.
Penyusun
Drs. Darwis Yakama
Denny Podung, S.Sos.
Ichsan Masyhuda, S.Sos.
Drs. Adrianus Lintang
Chairil Anwar, SE
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Penerbit :
Subdin Budaya dan Kesenian
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Propinsi Sulawesi Tengah
Jl. Dewi Sartika No. 91, ( (0451) 453941, 453942
Palu - Sulawesi Tengah
Juni 2005
Sambutan
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Propinsi Sulawesi Tengah
Saya sangat bersyukur bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Tengah sejak tahun 2001, telah menerbitkan beberapa judul naskah kesenian tradisional sebagai salah satu langkah antisipasi melestarikan seni etnik-tradisional Sulawesi Tengah. Kini di tahun 2005 ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menerbitkan pula naskah berjudul :
Kulrindang, Alat Musik Pukul
di Etnik Buol Sulawesi Tengah
Dengan adanya terbitan ini, maka berarti bertambah pula informasi yang dapat dijadikan bahan banding sekaligus bahan pustaka bagi penelitian sejenis, agar lebih mengenal kesenian antar suku bangsa guna memperkaya kesenian nasional.
Untuk itu, pada kesempatan ini saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Tim Penyusun, Nara Sumber, para Seniman di Kabupaten Buol dan semua pihak yang telah turut serta menerbitkan naskah ini sebagai salah satu program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Tengah tahun 2005.
Semoga penerbitan ini berguna bagi semua pihak yang membutuhkannya.

Palu, Juni 2005
Kepala Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata
propinsi Sulawesi Tengah,
TTD
Liberty Pasaribu, SH. MSi.
Pembina Utama Muda
NIP. 010081422

Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Perubahan yang menuju tatanan lebih baik, dihadapi oleh bangsa ini adalah perubahan di bidang spiritual yang mencakup aspek kesenian. Aspek yang diperlukan dapat dicapai melalui cinta terhadap kesenian bangsanya. Rasa cinta tanah air dan sikap yang tidak begitu saja menerima berbagai perubahan yang masuk dari luar, dapat ditanamkan kepada anak usia dini melalui kesenian. Kesenian dapat dipakai sebagai media pendidikan yang membentuk rasa keindahan, dan rasa indah erat kaitannya dengan budi pekerti luhur.

Olehnya, kesenian dan kegiatan kesenian merupakan aspek yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, maka kualitas kesenian yang akan dipertunjukkan menjadi lebih penting. Makin berkualitas suatu karya seni yang dipertunjukkan, maka berkualitas pula masyarakat yang membutuhkan kesenian itu. Atau dengan kata lain, makin rendah selera kesenian yang dimiliki oleh sebuah masyarakat, maka rendah pula-lah penghargaan terhadap karya seni dilingkungan masyrakat itu. Sehingga hal demikian akan menjadi tugas kita untuk merancang stadar pelayanan minimal dalam hal membina dan mengembangkan kualitas kesenian secara bertahap, salah satunya melalui penyusunan deskripsi seni tradisional.

Untuk itu, sangat diperlukan data-data melalui penelitian dan inventarisasi jenis kesenian tradisional yang berkembang dikalangan masyarakat, dalam rangka membina dan mengembangkannya untuk dipertunjukkan sebagai salah satu jenis kesenian yang akan menambah, memperkaya khasanah budaya bangsa dan kesenian nasional.
Usaha untuk melestarikan jenis-jenis kesenian tradisional, perlu dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan. Kesenian tradisional itu umumnya tersebar dikalangan suku-suku bangsa yang merupakan salah satu modal dasar dari pembangunan yang perlu dikembangkan secara utuh sebagai pencerminan kepribadian bangsa, bahkan merupakan kekuatan yang sangat berharga dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Berdasarkan uraian di atas, melalui Subdin Budaya dan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Tengah tahun 2005, disusun naskah seni dengan judul : Kulrindang, Alat Musik Pukul di Etnik Buol Sulawesi Tengah sebagai salah satu langkah antisipasi.
Dalam penyusunan ini akan dibahas pengertian, asal usul, bentuk fisik, cara bermain, jenis-jenis permainan serta menganalisis tangga nada dalam permainan alat musik ini.
Untuk melihat lebih jauh segala aspek pada Kulrindang sebagai bagian alat musik pukul, studi ini diarahkan untuk mendeskripsikannya.
B. Ruang Lingkup
Bertolak dari uraian latar belakang di atas, maka untuk membatasi lingkup kajian tulisan ini, dirumuskan beberapa masalah pokok sebagai berikut :
1. Pada konteks apa Kulrindang dimainakan ?
2. Bagaimana pengertian dan asal usul Kulrindang ?
3. Bagaimana bentuk fisik, fungsi dan cara bermain Kulrindang ?
4. Adakah tangga nada tertentu pada jenis-jenis melodi yang dihasilkan Kulrindang ?
C. Tujuan dan Sasaran
Penulisan ini bertujuan untuk mendapatkan masukan tentang Kulrindang sebagai alat musik pukul di etnik Buol Sulawesi Tengah, dengan mengacu pada :
1. Untuk memberikan gambaran mengenai konteks dimana ia dimainkan, pengertian, asal usul dan bentuk fisik alat musik ini
2. Untuk mengetahui dan mempelajari cara bermain, fungsi, jenis-jenis dan menotasikan tangga nada dalam permainan Kulrindang.
Sementara sasaran penulisan ini dapat bermanfaat bagi pengembangan kesenian daerah pada khususnya dan kesenian nasional pada umumnya. Misalnya sebagai bahan banding bagi penelitian sejenis, juga sebagai bahan masukan bagi instansi/lembaga pemerintah dan swasta yang relevan dalam penyusunan materi muatan lokal bagi Pendidikan Musik pada tingkat SLTP atau Pendidikan Musik Remaja.
D. Metodologi
Lazimnya sebuah penelitian, digunakan beberapa metode yang mempunyai relevansi dengan objek yang diteliti. Adapun metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :
Penelitian Kepustakaan (Library Research); Menelusuri berbagai literatur, dokumen, brosur dan karya-karya ilmiah yang dianggap relevan dengan objek kajian;
Penelitian Lapangan (Field Research); Memperoleh evidensi penelitian dilapangan, baik bersifat primer maupun sekunder. Untuk itu dilakukan aktivitas pengamatan dan wawancara dengan Informan/Nara Sumber;
Rekaman Suara (Tape Recourder); Merekam jenis-jenis melodi Kulrindang untuk dijadikan dasar penulisan dalam objek kajian ini;
Rekaman Gambar dan Suara (Handy Cam); Merekam gambar dan suara untuk setiap tahapan dalam permainan Kulrindang yang dijadikan sebagai dasar penulisan;
Lokasi Penelitian; Etnik Buol yang bermukim di Kabupaten Buol, dengan mengambil sampel area penelitian di Kecamatan Biau (Ibukota Kabupaten);
Analisis Data; Menganalisis data dengan menggunakan teknik Kualitatif. Teknik ini dipilih untuk menjelaskan dan menggambarakan keadaan sesungguhnya dengan mengutamakan argumentasi yang valid tentang segala hal yang berkaitan dengan objek penulisan.
Bab II
DESKRIPSI LOKASI DAN TINJAUAN
A. Keadaan Geografis
Kabupaten Buol terletak dalam 0,38
0 Lintang Utara – 1,200 Lintang Selatan dan 120,120 Bujur Timur – 122,090 Bujur Barat, dengan batas-batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara dengan Laut Sulawesi sekaligus berbatasan dengan Philipina;
- Sebelah Selatan dengan Kabupaten Tolitoli dan Kabupaten Donggala;
- Sebelah Timur dengan Propinsi Gorontalo;
- Sebelah Barat dengan Kabupaten Tolitoli.
Luas Wilayah Kabupaten Buol 4.043.57 Km
2 yang terdiri dari 9 wilayah Kecamatan, masing-masing adalah :
1. Kecamatan Palele
2. Kecamatan Gadung
3. Kecamatan Bunobogu
4. Kecamatan Bokat
5. Kecamatan Bukal
6. Kecamatan Momunu
7. Kecamatan Tiloan
8. Kecamatan Lipunoto
9. Kecamatan Biau
Dalam kondisi di atas, pemanfaatan lahan oleh masyarakat diperuntukkan sebagai berikut :
- Perkampungan seluas 1.649 Ha.
- Persawahan seluas 4.834 Ha.
- Tanaman Pangan lainnya seluas 3.259 Ha.
- Perkebunan Tanah Kering seluas 24.072 Ha.
- Alang alang seluas 6.758 Ha.
- Hutan rawa lainnya seluas 363.785 Ha.
Topografi Kabupaten Buol berbukit yang pada ketinggian tertentu terbentang luas dataran yang masih mungkin untuk dikembangkan sebagai lahan perkebunan, antara lain terdapat di Kecamatan Momunu, Bunobogu dan Kecamatan Biau.
B. Keadaan Demografis
Berdasarkan data penduduk yang tercantum dalam buku Sekilas Kabupaten Buol, jumlah penduduk diperkirakan sebesar 100.478 Jiwa, terdiri dari 51.557 Laki-laki dan 42.101 Perempuan. Laju pertumbuhan penduduk rata-ratanya adalah 2,81 % pertahun.
C. Kondisi Sosial Budaya
Sejarah masa Buol dibagi dalam beberapa fase, yaitu Buol sebelum Penjajahan, Buol dizaman Penjajahan dan Buol setelah Kemerdekaan. Kabupaten Buol adalah salah satu kabupaten pemekaran di Propinsi Sulawesi Tengah yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang RI nomor : 51 tahun 1999.
Dari hasil pengamatan, masyarakat di Kabupaten Buol berasal dalam satu rumpun dengan menggunakan bahasa sehari-hari adalah Bahasa Buol dengan memeluk agama yang mayoritas Islam.
Sedangkan hasil perolehan sumber data mengenai kepercayaan terhadap tradisi nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun, nampaknya masih tetap terjaga dan berjalan seiring dengan besarnya pengaruh agama yang dianut oleh masyarakat di Kabupaten Buol.
Menurut sumber Mohd. Thamrin Intim, BAE, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buol (4/5/2005) dilokasi penelitian, “sepajang tradisi leluhur tidak bertabrakan dengan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Buol, kenapa tidak dilestarikan sebagai suatu potensi seni budaya lokal yang nantinya dapat menarik minat pengujung untuk datang ke Buol”.
Sementara dalam bidang perekonomian, masyarakat dikabupaten ini merupakan masyarakat agraris, dimana sebagian besar perekonomiannya tergantung pada sektor pertanian dan perkebunan. Disamping itu, ada pula masyarakat yang bermata pencaharian lain seperti pegawai, pedagang, tukang dan lain-lain.
D. Tinjauan Mengenai “Etnik Buol”
Etnik (suku bangsa) Buol, merupakan salah satu dari 12 etnik di Propinsi Sulawesi Tengah. Dalam gambar kasarnya adalah sebagai berikut : (1) Kaili, (2) Kulavi, (3) Tomini bermukim di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parigi Mautong (4) Lore, (5) Pamona bermukim di Kabupaten Poso dan Kabupaten Tojo Una-Una (6) Mori, (7) Bungku di Kabupaten Morowali (8) Banggai, (9) Saluan, (10) Balantak bermukim di Kabupaten Banggai dan Kabupaten Banggai Kepulauan (11) Tolitoli, (12) Buol bermukim di Kabupaten Tolitoli dan Kabupaten Buol.
Dari ke-12 etnik itu, etnik Buol bermukim di Kabupaten Buol yang menyebar di 9 wilayah Kecamatan, yaitu : Kecamatan Palele, Gadung, Bunobogu, Bokat, Bukal, Momunu, Tiloan, Lipunoto dan Kecamatan Biau. Masyarakat Buol dalam kesehariannya menggunakan Bahasa Buol.
Orang Buol berasal dalam satu rumpun yang dimulai sejarahnya pada pemerintahan Ndubu I sekitar tahun 1380. Kemudian pemerintahan Buol berkembang sampai saat ini sebagai salah satu Kabupaten pemekaran di Propinsi Sulawesi Tengah yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang RI nomor 51 tahun 1999, dengan pejabat Bupati Buol pertama adalah Ir. Abdul Karim Mbow.
Bab III
Kulrindang, Alat Musik Pukul di Etnik Buol
A. Pengertian dan Asal Usul
Kulrindang yang dikenal oleh masyarakat Buol sebagai salah satu alat musik pukul, saat ini sudah sangat sulit untuk menemukan data yang akurat dan tepat tentang asal usul dan kapan keberadaannya. Sebagai konsekwensi logis dari sebuah folklore, informan menyiratkan bahwa Kulrindang berarti Kulintang yang di etnik Kaili disebut Kakula (alat musik pukul).
Seperti halnya Kakula, Kulrindang awalnya digunakan sebagai alat pendukung dakwa ketika Islam masuk dan membawa serta alat musik yang terbuat dari tembaga/kuningan di wilayah Buol.
Alat musik ini menyerupai Talempong dari Sumatera Barat, Bonang dari Jawa dan Kakula dari etnik Kaili Sulawesi Tengah.
Menurut sumber Maryam G. Mailili, Plh. Kasubdin Nilai Budaya dan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buol (4/5/2005) dilokasi penelitian, alat musik Kulrindang terdiri dari 2 kata yaitu “Tog” berarti “Dipukul” dan “Kulrindang” berarti “Kulintang”.
Jadi “Tog Kulrindang” itu dalam bahasa Buol berarti “Dipukul Kulintang” atau dalam tulisan ini diartikan “Pukulan Kulintang” atau lebih jelasnya lagi “Melodi Kulintang”.
Istilah penyebutan untuk alat musik ini, dalam bahasa Buol kerap digunakan pada kalimat yang dalam bahasa Indonesianya berarti memainkan alat musik Kulrindang dengan cara dipukul. Sehingga dalam konteks permainan Tog Nde-Ndeng (jenis melodi Kulrindang pada Upacara Kematian) dapat diartikan melodi menghibur orang yang sedang berduka. Mengenai jenis-jenis melodi Kulrindang, akan diuraikan pada bagian lanjutan.
B. Bentuk Fisik Kulrindang
Kulrindang terbuat dari besi (bahasa Buol; Uwate) tembaga/kuningan berbentuk bulat yang pada bagian tengahnya muncul/cembung dan menempati wadah yang terbuat dari kayu, terdiri dari 6 (enam) buah nada dengan susunan sebagai berikut :
do, re, mi, sol, la, si
1 2 3 5 6 7
Kulrindang dilengkapi dengan :
* Pamandi (Gong) 1 buah dengan nada C
* Gono-Gonong (Gendang) 2 buah berukuran sedang
Pada masyarakat Buol sekarang, Kulrindang masih berfungsi sebagai musik iringan dalam berbagai upacara adat. Alat musik ini belum dikembangkan fungsinya seperti halnya Kakula di etnik Kaili Sulawesi Tengah yang dijadikan sebagai musik iringan tari dan lagu-lagu daerah untuk kepentingan Seni Pertunjukan.
Untuk satu bentuk upacara adat, Kulrindang dimainkan dengan jenis melodi tertentu, sehingga dengan mendengar alunan melodinya, akan diketahui bahwa di tempat itu digelar sebuah upacara adat. Mengenai jenis-jenis melodi, akan dibahas pada bagian lanjutan.
C. Fungsi Kulrindang
Umumnya, alat musik tradisional hanya berfungsi sebagai alat musik penghibur diwaktu senggang. Berbeda halnya dengan Kulrindang, alat musik ini berfungsi hampir disetiap peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Buol. Fungsi-fungsi itu adalah :
1. Kulrindang dalam Upacara Perkawinan
Alat musik ini berfungsi untuk mengiringi tahapan-tahapan yang hadir dalam Upacara Perkawinan. Dimulai saat pengantin pria tiba dirumah pengantin wanita sampai pada proses upacara perkawinan selesai. Selain itu, Kulrindang disini berfungsi pula sebagai media komunikasi untuk menandakan digelar/ dilaksanakannya pesta perkawinan.
2. Kulrindang dalam Penobatan Raja
Alat musik ini berfungsi untuk mengiringi tahapan-tahapan yang hadir dalam Upacara Penobatan Raja (bahasa Buol; Tau Doka). Oleh masyarakat, jenis melodi yang dimainkan dalam upacara penobatan ini dan dalam upacara perkawinan diatas disebut Tog Kebesaran.
3. Kulrindang dalam Penjemputan Tamu
Alat musik ini berfungsi untuk Penjemputan Tamu kehormatan dan digelar ditempat dimana tamu itu akan dijemput. Oleh masyarakat, Kulrindang dalam fungsinya disini dikenal dengan musik Penjemputan Tamu kehormatan.
4. Kulrindang dalam Musyawarah Adat
Alat musik ini berfungsi dalam setiap tahapan Musyawarah Adat. Ia dimainkan pada saat musyawarah adat akan dimulai, diputuskan dan ditutup. Fungsi Kulrindang disini oleh masyarakat, dijadikan sebagai tanda persatuan dan kesatuan dalam musyawarah (bahasa Buol; Bokid).
5. Kulrindang dalam Pengobatan Tradisional
Kulrindang dalam fungsinya sebagai Pengobatan Tradisional dimainkan untuk mengiringi tahapan-tahapan penting yang hadir dalam proses penyembuhan. Jenis melodi yang dimainkan disini, oleh masyarakat dipercaya dapat menyembuhkan orang sakit.
6. Kulrindang dalam Permainan Pencak Silat
Kulrindang disini berfungsi untuk mengiringi Permainan Pencak Silat (bahasa Buol; Manja) yang digelar dilapangan/halaman rumah atau dipanggung pertunjukan.
7. Kulrindang dalam Upacara Kematian
Fungsi Alat musik Kulrindang disini terbilang unik. Ia dimainkan tidak selayaknya alat musik lain yang berfungsi hiburan, sebagai ekspresi rasa kegembiraan. Kulrindang dimainkan untuk mengatar tahapan-tahapan penting yang hadir dalam Upacara Kematian, dimulai dari menaikkan bendera adat, memandikan, mekafankan sampai pada tahapan menguburkan.
Sampai deskripsi ini disusun, belum ditemukan fungsi Kulrindang sebagai alat musik pukul dikembangkan untuk kepentingan seni pertunjukan. Semisal Kulrindang dalam mengiringi tari-tarian dan musik daerah atau sebagai Ensambel Musik Kulrindang.
Saat ini, Kulrindang di masyarakat Buol semata-mata berfungsi untuk kepentingan upacara adat. Kalaupun ditemukan fungsi lainnya, ia (Kulrindang; red) dijadikan ‘hanya’ sebagai musik pengiring dalam sebuah hajatan/acara peresmian gedung kantor.
D. Cara dan Jenis-Jenis Permainan
Seperti yang telah diuraikan pada bagian terdahulu, menurut sumber Maryam G. Mailili (4/5/2005) dilokasi penelitian, Kulrindang terdiri dari 2 kata yaitu “Tog” berarti “Dipukul” dan “Kulrindang” berarti “Kulintang”. Jadi “Tog Kulrindang” dalam bahasa Buol berarti “Dipukul Kulintang” atau dalam tulisan ini penyusun mengartikannya “Pukulan Kulintang” atau “Melodi Kulintang”.
Tog merupakan pukulan atau melodi dari alat musik Kulrindang untuk menghibur orang.
Kulrindang dapat dimainkan oleh pria atau wanita yang terdiri dari 4 (empat) orang pemain, dengan fungsinya masing-masing :
- 1 orang pemain Kulrindang (Kulintang);
- 1 orang pemain Pamandi (Gong);
- 2 orang pemain Gono-Gonong (Gendang).
Umumnya yang memainkan Kulrindang untuk kepentingan upacara adat adalah ibu-ibu dan bapak-bapak. Dalam sebuah upacara Perkawinan atau Penjemputan Tamu, alat musik Kulrindang ini dimainkan bersamaan dengan alat musik Rebana.
Biasanya yang memainkan Rebana adalah anak-anak yang terdiri dari 5 sampai 10 orang.
Pada bagian ini akan digambarkan jenis-jenis Tog (melodi) yang terdiri dari 6 (enam) jenis. Pada dasarnya jenis-jenis Tog sangat bervariasi dan dimainkan sesuai dengan fungsinya dimasyarakat.
Sebuah nama Tog dimainkan dengan fungsi untuk mengantar babakan penting dalam pelaksanaan Upacara Adat.
Berikut jenis-jenis Tog yang dimaksud :
1. Tog Doka
Melodi Kulrindang jenis ini dimainkan pada saat pengantin pria tiba dirumah pengantin wanita yang dimainkan bersamaan dengan alat musik Rebana, sampai pada proses upacara perkawinan selesai. Fungsinya sebagai penghibur dan sarana komunikasi bahwa ketika orang atau sekelompok orang mendengar Tog Doka, maka ditempat itu ada Upacara Perkawinan. Selain itu, melodi jenis ini dimainkan pula dalam Upacara Penobatan Raja. Olehnya, masyarakat Buol menyebut Tog Doka sebagai ‘Tog Kebesaran’.
2. Tog Lyanduang
Jenis melodi Kulrindang ini dimainkan untuk Penjemputan Tamu kehormatan dan digelar ditempat dimana tamu itu akan dijemput. Oleh masyarakat Buol, Tog Lyanduang ini dikenal dengan musik Penjemputan Tamu kehormatan yang dimainkan bersamaan dengan alat musik Rebana.
3. Tog Tubu-Tubu
Melodi Kulrindang ini dimainkan untuk mengantar babakan-babakan penting dalam sebuah Musyawarah Adat (bahasa Buol; Bokid). Ia dimainkan pada saat dimulainya Musyawarah Adat, diputuskan dan ditutup. Fungsi Kulrindang disini oleh masyarakat dijadikan sebagai tanda persatuan dan kesatuan dalam musyawarah.
4. Tog Solre
Jenis melodi Kulrindang sebagai Pengobatan Tradisional dimainkan untuk mengiringi tahapan-tahapan yang hadir dalam proses penyembuhan. Tog Solre ini oleh masyarakat, dipercaya dapat menyembuhkan orang sakit.
5. Tog Manja
Biasanya jenis melodi Kulrindang ini dimainkan dilapangan yang berfungsi untuk mengiringi permainan Pencak Silat (bahasa Buol; Manja). Ketika Tog Manja dimainkan, maka yang terlihat adalah sebuah pertunjukan Pencak Silat. Baik itu digelar dilapangan/halaman atau di panggung pertunjukan.
6. Tog Nde-Ndeng
Jenis melodi Kulrindang ini dimainkan untuk mengatar tahapan-tahapan penting yang hadir dalam Upacara Kematian, dimulai dari menaikkan bendera adat, memandikan, mekafankan sampai pada tahapan menguburkan. Apabila Tog Nde-Ndeng terdengar, maka ditempat itu ada proses Upacara Kematian. Melodi jenis ini berfungsi pula sebagai ‘melodi penghibur duka’.
Dengan melihat jenis-jenis melodi Kulrindang, maka jelaslah bahwa alat musik ini lebih berfungsi sebagai media komunikasi dilaksanakannnya sebuah Upacara Adat.
Ketika mendengar jenis melodi yang dimainkan Kulrindang, maka akan diketahui jenis upacara adat apa yang sedang dilaksanakan. Untuk itu, masyarakat Buol lebih mengenal Kulrindang sebagai alat musik pukul, dengan jenis Melodi (Tog) yang dimainkannya, dibanding nama Alat Musik itu sendiri. Seperti Tog Kulrindang (Melodi Kulrindang).
E. Tangga Nada
Setelah melihat fungsi dan jenis-jenis berdasarkan Tog (melodi) yang dihasilkan oleh Kulrindang, maka bagian ini akan dinotasikan salah satu jenis melodi sebagai berikut :
Tog Nde-Ndeng
3/4, Sedang Melodi Kematian
3 3 2 1 2 3 3 2 1 2 3 3 . 1
3 3 2 1 2 3 3 2 1 2 3 3 . 2
7 7 5 2 5 7 7 5 2 5 7 7 . 2
7 7 5 2 5 7 7 5 2 5 7 7 . 1
3 3 2 1 2 3 3 2 1 2 3 3 . 3
5 5 3 1 3 5 5 3 1 3 5 5 . 2
7 7 5 2 5 7 7 5 2 5 7 7 . 1
3 3 2 1 2 3 3 2 1 2 3 3 . 1
Bab IV
Penutup
Kesimpulan dan saran yang dianggap penting dalam penulisan ini adalah, tulisan ini memerlukan penelitian lebih lanjut terutama mengenai Tog (melodi) yang dihasilkan alat musik Kulrindang.
Singkatnya waktu penelitian, dana yang terbatas dan peralatan yang ada kurang memukinkan untuk mendapatkan inventarisasi Tog sebanyak-banyaknya. Mengingat Sulawesi Tengah belum mempunyai tangga nada, modus ataupun idiom musik yang khas dan dikenal secara luas.
Selain hal tersebut, beberapa hal yang ingin disampaikan dalam bab ini adalah sebagai berikut :
A. Kesimpulan
* Sulit untuk mengetahui asal muasal Kulrindang secara pasti. Tulisan mengenai pengertian dan asal usul Kulrindang adalah semata-mata hasil wawancara. Sehingga sangat mungkin terdapat kesamaan dengan etnik lain;
* Kulrindang menyerupai Talempong dari Sumatera Barat, Bonang dari Jawa dan Kakula dari etnik Kaili Sulawesi Tengah.
* Fungsi Kulrindang di masyarakat Buol belum dikembangkan lebih jauh, semisal untuk mengiringi tari-tarian, lagu daerah atau ensambel musik Kulrindang untuk kepentingan Seni Pertunjukan.
B. Saran
Diskusi ataupun tukar pendapat mengenai Kulrindang agar lebih ditingkatkan. Mengingat banyak hal yang bisa dilakukan dengan alat ini sebagai alat musik pukul dari etnik Buol Sulawesi Tengah.
Semua hal diatas akan menarik untuk dibahas, bila ide kita telah sampai pada melihat kemungkinan Kulrindang dijadikan materi pelajaran muatan lokal seni musik untuk remaja atau tingkat SLTP di Kabupaten Buol. Semoga !chsan


Vidieo ini menampilkan; 1) Dadendate (nyanyian panjang)
di Pangi kabupaten Parigi Moutong, 2) Dulua (cerita rakyat)
di ngata Toro kabupaten Sigi, 3) Krambangan (melodi
khas orang Poso) di desa Satu kabupaten Poso dan 4) Ei-Ei
(nyanyian pembawa berita) di Dondo kabupaten Tolitoli.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management